Catatan PLA

*PLA: Program Latihan Akademik, setara magang/KP*

Tempat PLA: Divisi Online Media Bisnis & Investasi Kontan Gedung Kontan, Jl. Kebayoran Lama No. 1119, Jakarta Selatan.

******

Memulai rutinitas baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya sangatlah susah. Ditambah pula dengan lingkungan tempat kerja dan tempat tinggal yang belum pernah dikunjungi dan latar belakang pendidikan yang berbeda, semakin berat saja untuk dihadapi. Butuh kerja keras yang lebih untuk dapat mengikuti rutinitas baru yang dilaksanakan kurang lebih dua bulan ini. Begitulah kira-kira awal pelaksanaan PLA yang saya hadapi. Saya sebelumnya belum pernah bergelut dengan dunia jurnalistik. Tetapi, saya sangat tertarik dengan dunia tulis-menulis ini karena penuh tantangan dan memiliki tanggung jawab besar. Sebagai persiapan sebelum melaksanakan PLA, saya membaca buku dan browsing di internet mengenai jurnalistik. Hal ini sangat membantu untuk mengetahui informasi dasar tentang jurnalistik. Selain itu, pembekalan yang diadakan oleh jurusan sebelum PLA juga memberikan manfaat besar. Meski sudah membaca dan mempersiapkan diri, tentu saja saya tetap menghadapi masalah-masalah dalam pelaksanaan PLA. Berikut adalah masalah-masalah saya hadapi dan cara penyelesaian yang saya lakukan.

Masalah pertama yang saya hadapi adalah masalah bersosialisasi di tempat PLA. Saya merasa kesulitan dalam berinteraksi dan menyesuaikan diri di tempat PLA. Pada awalnya, saya hanya berinteraksi dengan orang-orang tertentu yang berhubungan langsung dengan saya seperti redaktur pelaksana, resepsionis, dan beberapa jurnalis. Namun perlahan-lahan, dengan melempar senyum dan saling sapa, saya dapat berinteraksi dengan hampir semua jurnalis dan pekerja lain di divisi online. Hal ini bisa saya lakukan karena staf di tempat PLA ramah dan baik. Saat saya menanyakan tentang suatu hal, mereka langsung membantu dengan senang hati. Saat saya meminta tolong terhadap sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan, mereka juga menanggapi. Pada akhirnya, saya bisa berinteraksi dan menyesuaikan diri. Pelajaran penting yang bisa saya tarik dari masalah berinteraksi dan penyesuaian diri di tempat kerja adalah harus lebih aktif, jangan lelah untuk tersenyum dan menyapa rekan-rekan kerja baru, jangan malu bertanya, dan jangan sombong atau harus rendah hati.

Masalah kedua yang saya hadapi adalah masalah pekerjaan, yaitu penerjemahan berita. Ilmu yang didapat selama perkuliahan memang sangat berguna selama saya melakukan PLA. Namun, berhubung karena Media Bisnis & Investasi Kontan fokus terhadap masalah ekonomi dan bisnis, saya mengalami kesulitan dalam menerjemahkan berita yang mengandung istilah-istilah ekonomi dan bisnis. Maklum, saya belum pernah menerjemahkan istilah itu sebelumnya. Ditambah pula, tugas-tugas terjemahan yang diberikan dosen juga jarang menyangkut hal-hal yang berbau bisnis dan ekonomi.

Awalnya, saat menemukan kata-kata sulit dan belum pernah ditemui sebelumnya, saya menggunakan kamus online untuk menerjemahkannya. Untungnya, Dosen Pembimbing Luar Biasa atau redaktur pelaksana memberikan referensi kamus online yang biasa mereka gunakan untuk menerjemahkan istilah-istilah asing tersebut. Selain itu, pada hari pertama PLA, redaktur pelaksana sudah memberitahukan bahwa menerjemahkan berita berbeda dengan menerjemahkan teks lain. Menerjemahkan berita itu bukan dengan metode word-for-word atau kata per kata, melainkan dengan metode adaptation atau penyaduran. Sumber berita (BP) dibaca dulu secara keseluruhan, setelah isi dan makna berita dipahami, barulah ditulis kembali ke dalam bahasa sasaran (BS). Redaktur pelaksana juga mengingatkan saya untuk berhati-hati dalam menerjemahkan istilah ekonomi karena istilah ini lumayan rumit.

Seiring waktu berjalan, saya pun mulai percaya diri dengan hasil terjemahan meski sebenarnya masih kurang pas dengan bahasa jurnalistik. Seminggu saat kegiatan PLA berjalan, redaktur pelaksana mengadakan evaluasi terhadap hasil terjemahan yang saya lakukan. Adapun hasil evaluasinya yaitu, redaktur pelaksana mengingatkan supaya saya lebih berhati-hati dengan istilah asing. Misalnya, menerjemahkan istilah gelar. Jika padanan istilah gelar bahasa Inggris tidak ada dalam bahasa Indonesia, tidak usah diterjemahkan. Contohnya, istilah chief executive officer (CEO) tetap saja ditulis CEO dalam bahasa Indonesia. Selain itu, masalah menerjemahkan kalimat aktif dan pasif masih belum tepat. Redaktur pelaksana memberitahu saya supaya membaca hasil terjemahan berita dulu sebelum dikirim ke e-mail beliau. Melalui evaluasi ini saya semakin berhati-hati dalam menerjemahkan. Sementara itu, saat saya menemukan istilah yang benar-benar tidak dimengerti, saya menanyakan langsung kepada redaktur lain tentang istilah itu.

Sehari sebelum PLA berakhir, saya bertanya kepada redatur pelaksana tentang hasil terjemahan berita. Redaktur pelaksana mengakatan kalau secara keseluruhan hasil terjemahan saya sudah lumayan baik. Namun, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan diperbaiki lagi, yaitu: masalah penerjemahan kalimat pasif dan aktif yang sering tertukar; melakukan riset atau googling jika ada istilah yang kurang dimengerti, hal ini bisa membantu proses penerjemahan; menerjemahkan istilah tertentu masih kurang tepat. Tapi, hal ini berkaitan juga dengan jam terbang. Jadi, harus sering membaca buku dan istilah ekonomi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s