KONSEP DAN DEFINISI EKONOMI KREATIF DALAM PERSPEKTIF INDONESIA

Pengembangan ekonomi dan industri kreatif sangat gencar dilakukan di berbagai negara akhir-akhir ini. Model bisnis yang mengutamakan kreativitas dan informasi dari Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai faktor produksi ini telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian. Sebagai contoh, persentase kontribusi Gross Domestic Product (GDP) yang disumbangkan oleh industri kreatif di beberapa negara seperti Singapura dan Inggris berkisar antara 2,8% sampai dengan 7,9%. Selain itu, tingkat pertumbuhan industri kreatif di Australia dan Inggris berkisar antara 5,7% dan 16% serta tingkat penyerapan tenaga kerja di Singapura dan US berkisar antar 3,4% sampai dengan 5,9% (Studi Industri Kreatif Indonesia, 2007).

Konsep ekonomi baru ini sebenarnya sudah muncul sekitar tahun 1994 dalam laporan “Creative Nation” yang diluncurkan oleh Australia. Lalu, pada tahun 1997, Inggris melalui Department of Media, Culture and Sport (DCMS) memberikan definisi industri kreatif yaitu “those activities which have their origin in individual creativity, skill and talent, and which have a potential for wealth and job creation through the generation and exploitation of intellectual property.” Dalam hal ini, kreativitas menjadi input sentral terhadap proses produksi dan hak intelektual sebagai output (Studi Industri Kreatif Indonesia, 2007). Adapun industri kreatif yang diajukan oleh DCMS ini mencakup bidang advertising, architecture, the art and antiques market, crafts, design, designer fashion, film, interactive leisure software, music, the performing arts, publishing, software, television and radio.

Menurut DCMS, ada beberapa pendekatan pendefinisian industri kreatif. Pertama, creative industries. Pendekatan ini memiliki karakter bahwa input tenaga kerjanya adalah industri kreatif. Kedua, copyright industries. Pendekatan ini didefinisikan lewat aset dan output industri. Ketiga, content industries. Pendekatan ini didefinisikan pada fokus produksi industri. Keempat, cultural studies. Pendekatan ini didefinisikan pada pembiayaan dan fungsi kebijakan publik. Kelima, digital content. Pendekatan ini didefiniskan lewat kombinasi teknologi dan fokus produksi industri.

Perambahan industri kreatif telah diprediksi oleh futurolog Alvin Toffler (1980) yang dalam bukunya The Third Wave menyebutkan bahwa ada tiga peradaban ekonomi. Pertama, ekonomi pertanian. Kedua, ekonomi industri. Ketiga, ekonomi informasi. Selanjutnya, Toffler memperediksi peradaban ekonomi keempat, yaitu ekonomi kreatif dimana kreativitas menjadi sumber utama. Lebih lanjut, John Howkins dalam bukunya “Creative Economy, How People Make Money from Ideas” mengemukakan bahwa ekonomi kreatif adalah kegiatan ekonomi yang mengutamakan gagasan. Sementara itu, Departemen Perdagangan (2009) mengungkapkan bahwa ekonomi kreatif merupakan era baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan stock of knowledge dari sumber daya manusianya sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya.

Beberapa negara telah mengembangkan industri kreatif seperti Inggris, Selandia Baru, Australia, Singapura, Taiwan dan negara-negara lainnya. Pengembangan industri kreatif di Inggris, Selandia Baru dan Taiwan meliputi sektor Periklanan, Arsitek, Pasar barang dan seni, Kerajinan, Desain, Fesyen desain, Film & video, Permainan interaktif, Musik, Seni pertunjukan, Penerbitan, Layanan Komputer dan Piranti lunak serta Televisi dan Radio. Berbeda dengan tiga negara sebelumnya, pendekatan industri kreatif di Australia dan Singapura dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu: (1) Core Copyright Industries; (2) Partial Copyright Industries; dan (3) Distribution Industries. Selain itu, Spanyol, Finlandia dan Jerman melakukan pendekatan industri budaya dalam pengembangan industri kreatif.

Di Indonesia sendiri, ekonomi kreatif mulai dikembangkan sejak peluncuran program Indonesia Design Power pada tahun 2006 lalu oleh menteri perdagangan RI, Dr. Mari Elka Pangestu. Program pengembangan ekonomi dan industri kreatif semakin digiatkan setelah Presiden RI mengeluarkan Intruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2009 tentang Pengembangan Ekonomi Kreatif Tahun 2009-2015. Penetapan ini ditujukan untuk menciptakan lapangan kerja dan mengurangi kemiskinan. Sesuai dengan penetapan tersebut, industri kreatif di Indonesia dapat didefinisikan sebagai “Industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, keterampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan melalui penciptaan dan pemanfaatan daya kreasi dan daya cipta individu.” Kemudian, profil industri kreatif dikelompokkan berdasarkan empat indikator pengukuran, yaitu berbasis nilai produk domestik bruto, ketenagakerjaan, aktivitas perusahaan dan dampak terhadap sektor lain. Sehingga, industri kreatif diklasifikasikan menjadi 14 subsektor industri kreatif, yaitu: (1) Periklanan; (2) Arsitektur; (3) Pasar dan barang seni; (4) Kerajinan; (5) Desain; (6) Fesyen; (7) Film, Video, Fotografi; (8) Permainan Interaktif; (9) Musik; (10) Seni Pertunjukan; (11) Penerbitan dan Percetakan; (12) Layanan Komputer dan Piranti Lunak; (13) Televisi dan Radio; dan (14) Riset dan Pengembangan.

Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan industri kreatif ditinjau dari beberapa hal diantaranya potensi ekonomi pariwisata Indonesia dan kebudayaan Indonesia yang sangat mempunyai cita rasa seni yang tinggi –bisa dilihat dari jumlah kesenian dan makanan daerah. Hal ini menunjukkan Indonesia memiliki daya kreativitas yang luas sesuai dengan pendapat John Howkins yang menyatakan ini sebagai modal utama dalam pengembangan industri kreatif. Ekonomi kreatif Indonesia bisa semakin berkembang jika digabungkan dengan pariwisata yang sudah memiliki nama. Tentu, kombinasi ini bisa memunculkan pusat-pusat ekonomi kreatif dimana produk ekonomi kreatif tersebut yang menjadi daya tarik wisatawan. Proses kombinasi dan integrasi dua kegiatan ini tentu harus melalui pengambangan dan persiapan serta master plan khususnya untuk ekonomi kreatif agar mampu bersanding dengan pariwisata Indonesia. Tentunya, master plan ini mencakup pengembangan sumber daya manusia, pengembangan pusat-pusat promosi, pengemasan dan penjualan.

 

Referensi:

Afiff, Faisal. 2012. Kewirausaan dan Ekonomi Kreatif. Rangkaian Kolom Kluster I, 2012. Jakarta. Binus University.

Afiff, Faisal. 2012. Pilar-Pilar Ekonomi Kreatif. Rangkaian Kolom Kluster I, 2012. Jakarta. Binus University.

Antariksa, Basuki. 2012. Konsep Ekonomi Kreatif: Peluang dan Tantangan dalam Pembangunan di Indonesia. Jakarta. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Antariksa, Basuki. 2012. Konsep Indonesia Kreatif: Tinjauan Awal Mengenai Peluang dan Tantangannya bagi Pembangunan Indonesia. Jakarta. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

LEMHANNAS RI. 2012. Pengembangan Ekonomi Kreatif guna Menciptakan Lapangan Kerja dan Mengentaskan Kemiskinan dalam Rangka Ketahanan Nasional. Jakarta.

Kementerian Perdagangan RI. 2010. Perkembangan Ekonomi Kreatif di Indonesia. Jakarta.

Studi Industri Kreatif Indonesia. 2007

 

Tagged: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s