Tak ada yang sia-sia, jika…

Suatu hari, saya mengikuti tes wawancara di sebuah bank ternama di ibukota. Pengalaman menuju tempat tes penuh dengan perjuangan kala itu *drama sikit*. Saya diantar oleh teman saya sebut saja namanya F (mudah-mudahan doi baca, hihi), tapi tidak sampai tempat tujuan karena teman saya ini harus mengerjakan tugas lain. Lalu, saya melanjutkan perjalanan dengan naik ojek sambil berpesan pada bapak tukang ojek, “Cepat ya pak, saya hampir terlambat.”

Motor melaju perlahan menembus kemacetan ibukota pagi itu. Alhasil, saya tiba tapi terlambat sekitar 10 menit-an. Nah, perjuangan berlanjut, saya salah masuk gedung. Saya masuk gedung depan padahal yang mereka maksudkan adalah gedung belakang. Jadi, saya mondar-mandir dulu cari gedung selama 30 menit. Saya mencoba menghubungi HRD yang bersangkutan tapi responnya agak lama. Syukurlah Cuma 30 menit😀 Jadi total keterlambatan sekitar 40 menit. Wew!

Dengan perasaan bersalah sambil memasang muka memelas, saya bertemu dengan HRD-nya. Dan, mereka bilang tidak apa-apa karena pada saat itu pewawancara belum datang. Wah, aman nih, begitu dalam hati.

Sejam berlalu, dua jam lewat, dan seterusnya, pewawancara tak kunjung datang. Saya disuruh untuk makan siang terlebih dahulu dan disuruh datang lagi setelah jam makan siang. Setelah jam makan siang, saya kembali lagi, tapi pewawancaranya tak kunjung muncul. Dan setelah bertanya beberapa kali dengan HRD, saya akhirnya diwawancara. Dan itu sudah cukup sore, waktunya pekerja kantor pulang.

Sambil menuju halte Busway, saya berpikir keras bahwa perjuangan saya tadi pagi sia-sia. Saya menyia-nyiakan waktu saya. Sampai pada satu titik saya berpikir, mungkin saya tidak sia-sia, mungkin Tuhan punya sesuatu untuk saya dibalik proses perjuangan dan menunggu yang cukup lama tadi.

Saat menuju stasion kereta, saya bertemu dengan sahabat karib yang berasal dari daerah yang sama. Meski kami berdiam di pulau Jawa kurang lebih selama lima tahun, kami belum pernah bertemu sama sekali. Dan, saya mengambil kesimpulan bahwa untuk itulah saya harus menunggu dari pagi-sampai sore, bukan menunggu yang sia-sia. Coba saya lebih cepat semenit saja, saya mungkin tidak akan bertemu dengannya. Jadi, tidak ada yang sia-sia jika kita berpikir tidak sia-sia.

***
Suatu sore saat saya mau mengajar dan sudah hampir tiba di tempat tujuan, teman yang ingin saya ajari tiba-tiba menelepon dan berkata bahwa les hari itu tidak jadi. Beliau ada rapat mendadak.

Awalnya, saya agak kesal dalam hati. Tapi, tidak apa-apa saya pikir. Perjalanan tetap saya lanjutkan, namun saya memilih menikmati waktu itu di taman. Saya ingin menyegarkan pikiran saya dengan menghirup udara segar dan juga membaca buku yang saya bawa.

Selain itu, saya juga punya tugas menulis dan belum saya kerjakan tapi selalu saya pikirkan. Puji Tuhan, otak saya sangat segar saat itu sampai saya berhasil membuat kerangka tulisannya. Waktu yang semula saya kira sia-sia, ternyata tidak. Jadi, tidak ada yang sia-sia jika kita berpikir tidak sia-sia.
***
Mudah-mudahan yang membaca mengerti karena saya menulis blog ini sambil mengantuk, hehe.
Semoga bermanfaat🙂

Tagged: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s